Pil boleh membuat wanita merasakan kurang “sreg” dalam hubungan seksual. Namun ia bisa membuat hubungan non seksual bertahan lebih lama.
Itulah hasil dari sebuah studi yang menyingkap dilema baru bagi para wanita untuk memutuskan apakah ia akan memutuskan menggunakan
pil kontrasepsi saat ia mulai menjalin hubungan dengan pasangannya, ataukah tidak.
Mengkonsumsi pil kontrasepsi selama ini memang selalu dikaitkan dengan kepuasan seksual yang lebih “rendah” dalam sebuah hubungan, namun sebaliknya ia bisa berdampak positif pada aspek – aspek non seksual lainnya.
Wanita yang menggunakan pil kontrasepsi umumnya memiliki ketertarikan pada lawan jenis yang lebih sedikit daripada mereka yang tidak mengkonsumsinya. Setidaknya itulah yang terungkap dalam sebuah penelitian yang melibatkan sekitar 2500 pasangan. Bahkan, para wanita terlihat lebih bahagia dalam sisi non seksual lain semisal adanya perhatian juga dukungan terhadap anak.
Dalam studi yang dipimpin oleh Craig Roberts dari universitas Stirling itu, peneliti mengadakan kuesioner untuk mengukur kualitas hubungan sekitar 2519 wanita yang telah mempunyai sedikitnya seorang anak. Dan separuh lebih dari wanita tersebut menggunakan kontrasepsi ketika masa awal ia menjalin hubungan dengan pasangan mereka. “Hasilnya, dari kelompok wanita yang menggunakan kontrasepsi ada keluhan berkurangnya kepuasan seksual, namun mereka lebih berhasil dalam aspek non seksual lain.” Ucap Roberts seperti yang dikutip dari
The Guardian.
Umumnya, pada wanita yang menggunakan kontrasepsi terjalin hubungan relatif lebih lama daripada wanita yang tidak mengkonsumsi.

Roberts memperkirakan itu merupakan pengaruh dari sekelompok gen yang bernama Major Histocompability Complex ( MHC ), yang juga merupakan komponen penting bagi sistem kekebalan manusia. Gen ini juga bisa menjadi rujukan penting bagi seseorang untuk menemukan pasangan yang secara genetis berbeda golongan, karena perbedaan genetis dalam gen MHC mengacu pada bertambahnya kesempatan untuk bertahan atas pengaruh buruk lingkungan ataupun penyakit. Wanita pun cenderung tertarik pada pria yang memiliki golongan gen berbeda karena bisa menghasilkan bayi yang lebih sehat.
Dari penelitian sebelumnya menunjukkan, wanita tentu saja mengalami perubahan psikis yang sama seperti fluktuasi hormon mereka. Selama masa “kemarau” mereka terlihat lebih tertarik pada pria yang lebih perhatian dan dapat diandalkan, yang mungkin nanti bisa menjadi ayah yang baik. Namun ketika datang masa subur, mereka lebih tertarik pada sisi maskulin seorang pria.
Nah, perubahan fluktuasi hormon pada seorang wanita ketika menggunakan pil hampir sama ketika mereka mengalami masa kemarau tadi.
Namun, Roberts juga mengungkapkan bahwa studi ini masih terikat oleh beberapa faktor yaitu individu itu sendiri serta pandangan suatu masyarakat terhadap seks dalam suatu hubungan. Tapi ia menambahkan, hasil dari studi ini patut menjadi pertimbangan bagi seorang wanita dalam menentukan pasangan mereka. Memilih pasangan merupakan salah satu keputusan terpenting dalam hidup, karena bersama pasangan itulah nantinya mereka menjalani sisa hidup mereka serta mengayomi anak-anak mereka dengan tenang.
Hemm … ribet juga ya !